Penganggaran untuk Masjid (dan organisasi non profit lainnya) July 31, 2009
Posted by pepiediptyana in Uncategorized.Tags: akuntansi masjid, anggaran, anggaran masjid, masjid
add a comment
Arus kas merupakan kunci kesuksesan operasi setiap organisasi. Pada organisasi yang tidak beriorientasi ke profit, ketergantungan pada donatur cukup tinggi, sehingga kepastian dana menjadi pertanyaan besar. Namun, di sisi lain, keikhlasan dari para donatur dan kepercayaan mereka lah yang menjadi nilai tambah bagi para organisasi sektor publik. Kepercayaan itulah yang dapat menjadikan sumber daya atau uang menjadi mengalir dengan pasti ke dalam organisasi. Kepercayaan donatur inilah yang perlu dipelihara, bahkan ditingkatkan jika organisasi menginginkan kepastian serta peningkatan arus kas masuk.
Bagaimana agar kepercayaan publik dapat meningkat dan senang mendermakan (mempercayakan) dananya kepada organisasi? Salah satu caranya adalah dengan menunjukkan ketercapaian organsisasi kepada mereka. Selain itu, tunjukkan kepada mereka (donatur) bahwa dana mereka dikelola dengan aman dan terkendali.
Bagaimana cara mengendalikan dana? Gunakanlah anggaran. [More...] Anggaran merupakan rencana yang disajikan dalam satuan mata uang (Freeman, 2003). Selain itu, anggaran merupakan panduan untuk mengarahkan kegiatan dan ketercapaian tujuan organisasi (Blazek, 2008). Penganggaran merupakan kegiatan menyusun anggaran (baca: rencana, tapi dalam bentuk satuan uang), yang pada umumnya dilakukan oleh manajemen.
Bagaimana anggaran dapat digunakan untuk menunjukkan bahwa dana donatur itu aman dan terkendali? Ketika anggaran adalah suatu rencana atas penggunaan sumberdaya, maka “tandingannya” adalah realisasi atas anggaran. Anggaran yang pada akhirnya menunjukkan angka “defisit” bukanlah suatu dosa. Bisa jadi karena capaian yang diraih pun tinggi, dan membutuhkan banyak dana, sehingga biaya yang terealisasi lebih besar daripada anggarannya. Oleh karena itu, Laporan Realisasi Anggaran yang baik harus didampingi dengan penjelasan. Penjelasan itu berupa capaian-capaian yang diraih, serta penyebab-penyebab yang mengakibatkan biaya.
Nafas kehidupan organisasi sektor publik banyak bergantung pada semangat orang-orang yang terlibat di dalamnya. Hampir sama dengan mengelola wirausaha. Diawali oleh semangat kerja pemimpinnya, organisasi sektor publik diharapkan mampu bertahan demi tercapainya tujuan-tujuan yang mulia. Penganggaran dan akuntansi yang tepat dapat menunjang kelangsungan arus kas dan sumberdaya lainnya dapat masuk, namun semuanya juga tergantung perilaku para pengelola untuk mau bertumbuh, menyesuaikan diri, dan tetap bersemangat.
Silakan download : Modul Pelatihan Pengelolaan Keuangan Masjid, Anggaran
terima kasih kepada Bapak/Ibu peserta pelatihan, Kepala Kantor Departemen Agama Kota Surabaya (pak Drs. H. Suwito, M.Si), dan staf (pak Suba’i dan rekan-rekan di bagian Penamas), Dewan Masjid Indonesia (koordinator surabaya, diwakili oleh Bp. Rohib), dan terima kasih kepada Pusat Penelitian & Pengabdian Masyarakat (PPPM) STIE Perbanas Surabaya (Pak Wilopo, Bu Aniek, Bu Rovila, Bu Chitra), Ibu Maya, dan mahasiswa-mahasiswa saya tercinta yang pantang menyerah (Ega, Karina, Aprillya, Ferdian, Cahaya Ekaputri, Nurul Afni) yang telah menyelenggarakan pelatihan 5 Agustus 2009.
Akuntan Pemerintah, perlukah? [suatu pemikiran dari perspektif sistem informasi akuntansi] July 7, 2009
Posted by pepiediptyana in Akuntansi Sektor Publik, Uncategorized.Tags: akuntan pemerintah, Sistem Informasi Akuntansi, software akuntansi
add a comment
Waduh, kalau saya langsung jawab : ngga perlu, bisa dipancung kajur-kajur akuntansi sedunia, nih, hehehe…. berlebihan. Kalau takut dipancung, ya bilang aja: perlu, hehehe…..
Hasil penelitian yang menyatakan bahwa kemampuan SDM berpengaruh signifikan dengan kualitas informasi akuntansi instansi pemerintah [Fariziah 2009]. Uniknya, pada penelitian tersebut, 79% dari responden penelitian adalah tidak berlatarbelakang pendidikan akuntansi, dan 91% dari responden telah menerima pelatihan Sistem Akuntansi Instansi (SAI). Nah,apakah hasil tersebut bisa diinterpretasikan begini: meski sebagian besar staf pemerintahan bukan berlatar belakang akuntansi, laporan keuangan pemerintah tetap jadi juga karena pelatihan.
Di sektor publik khususnya pemerintahan, faktor teknis berupa kapabilitas sistem informasi, kapabilitas personil untuk menganalisis metrik kinerja juga tidak berpengaruh terhadap pengukuran kinerja dan pemanfaatan informasi kinerja, namun faktor teknis berupa pelatihan dan faktor politis memiliki pengaruh signifikan [Pepie, 2007]. Lhah, apa maknanya? Apakah dapat dikatakan bahwa staf pemerintahan tidak berperan dalam memberikan informasi kinerja, atau penyediaan informasi akuntansi? Kita tentunya tidak dapat langsung menuding bahwa staf pemerintahan tidak memadai. Jika dilihat dari sudut pandang sistem kerja, tidak dapat dipungkiri bahwa yang dilakukan oleh staf pemerintahan saat ini adalah entry data sesuai dengan petunjuk teknis. Pencatatan transaksi yang dilakukan pada Sistem Akuntansi Pemerintahan belum mengoptimalkan kegiatan analisis sebagaimana yang dilakukan akuntan di perusahaan swasta. Entry jurnal banyak terbantu dengan software akuntansi dan pendampingan serta pelatihan.
Jika akuntansi dipandang sebagai pekerjaan rutin mengentry jurnal, yang bisa digantikan dengan software, apakah masih dibutuhkan staf akuntan di sektor pemerintahan? Pertanyaan yang serem. (more…)
Akuntansi untuk Akhirat June 9, 2009
Posted by pepiediptyana in Uncategorized.1 comment so far
Jika melihat definisi akuntansi berupa proses pencatatan dan pelaporan saja, maka perlu direnungkan bahwa segala kegiatan kita sehari-hari akan dilaporkan untuk di akhirat. Selanjutnya, laporan akan digunakan untuk mengambil keputusan reward dan investasi..
Al-Qur’an menghendaki manusia melakukan pertanggungjawaban vertikal dan horizontal. Dengan kata lain: ada hablum-minallah, dan ada hablum-minannaas. Hablumminallah menimbulkan kewajiban manusia untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya kepada Allah, dan hablum-minannaas menimbulkan pertanggungjawaban antar manusia.
Apa yang perlu dipertanggungjawabkan oleh manusia?
Perception of College Students toward E-Cheating January 19, 2009
Posted by pepiediptyana in Uncategorized.Tags: e-cheating
add a comment
Hikz, maaf baru bisa posting lagi….
Ide penelitian ini berawal dari maraknya penggunaan komputer dan internet di lingkup akademis, pengalaman pribadi dalam mengajar dan memberi tugas, dan keingintahuan saya tentang trigger perilaku yang cenderung mewabah….
Abstract :
Information technology (IT) devices have offered many facilities for educational process. Unfortunately, some studies have concluded that IT facilities have been misused by some students. The misuse of IT in academic process is called E-Cheating. Some studies have done, but there are only limited studies conducted for IT utilization in Accounting and Management majors. This research is aimed at knowing how the perception of college students towards any actions of E-cheating in academic area is, especially in university that utilizes IT in Accounting and Management. The survey has been conducted to more than 400 students of Accounting and Management to explore the students perception towards e-cheating in academic area. There are some results, they are : first, items e-cheating behavior that perceived by lecturers and students are almost the sam, although with different level of perception; second, copy and paste activity without crediting the source is mostly activity do by students; third, not all e-cheating behavior perceived by student will provide unfair advantage. This study can give a benefit to educational institutions to be taken into account in the compilation of academic code of ethics and analysis of education curriculum that is relevant to the code of ethics in the e-employment.
download materi (PPT), klik : e-cheating-pepie-luciana1
Hasil penelitian sederhana ini menyadarkan kami bahwa (more…)
Intermittent Catheterization October 23, 2008
Posted by pepiediptyana in Uncategorized.3 comments
Tulisan saya yang ini ngga ada hubungannya sama sekali dengan akuntansi. Saya ingin berbagi pengalaman saja, mudah-mudahan bermanfaat.
Istilah intermittent catheterization saya kenal 3 hari setelah melahirkan secara spontan (normal). Masalahnya, saya tidak bisa buang air kecil, sehingga harus dibantu dengan pipa kateter untuk mengeluarkan urine. Pasang – lepas kateter dilakukan secara berkala, sehingga disebut dengan istilah intermittent. Berkala-nya itu ada yang tiap 4 jam, ada yg 6 jam, ada yg 8 jam, ada yg se-kebeletnya. Jadi, kateter tidak nyantol terus di tubuh.
Pertanyaan besar yg muncul adalah: Kenapa kok sampe ngga bisa pipis?
Academic Cheating (Kecurangan Akademis) August 27, 2008
Posted by pepiediptyana in Uncategorized.add a comment
Teknologi memang diciptakan untuk memudahkan seseorang untuk melakukan pekerjaan, termasuk melakukan kecurangan. Contoh, desain keyboard yang memudahkan untuk proses editing, ternyata juga memfasilitasi copy-cut-paste para pelaku plagiat. Tengoklah ke keyboard: huruf X (ctrl+X = cut), C (ctrl+C = copy) dan V (ctrl+V=paste) kan mepet2 tuh…
Bicara tentang kecurangan, khususnya di bidang akademik, Wood dan Warnken (2004) dua orang peneliti tentang e-cheating mengklasifikasikan 8 jenis aktivitas yang tergolong dalam kecurangan akademik, yaitu:
1. Plagiat (plagiarism), yaitu aktivitas seseorang yang meniru (imitate) dan/atau mengutip (secara identik tanpa modifikasi) pekerjaan orang laen tanpa mengungkapkan/menyebutkan nama penulis sebelumnya, dan meng-klaim bahwa tulisan tersebut adalah hasil karyanya. Orang yang melakukan ini disebut: plagiarist. Cut atau copy then paste ngga dosa, selama mencantumkan sumber (nama penulis, tahun, dst) yang sebelumnya.
2. Collussion, yaitu unofficial collaboration (maksudnya, kerjasama yang tidak diijinkan) antara dua orang atau lebih (baik antar siswa maupun antara siswa dengan dosen/guru) untuk mengerjakan tugas atau ujian, agar salah satu pihak atau kedua pihak diuntungkan dengan nilai yang diperoleh.
3. Falsification, yaitu memasukkan hasil pekerjaan orang laen, yang sudah diganti namanya, dan diakui sebagai pekerjaannya.
4. Replication, yaitu memasukkan / mengumpulkan hasil pekerjaan / tugas yang sama, baik seluruhnya maupun sebagian (a piece of work) ke dalam lebih dari satu media, dengan tujuan supaya mendapat nilai atau kredit/poin tambahan. Jadi gini, kalo ada dosen yang memasukkan artikelnya di lebih dari satu jurnal penerbitan, baik tulisannya itu utuh atau dipotong-potong tapi isinya sama aja, dengan tujuan untuk memperoleh kredit yang banyak, nah, itu tergolong dalam aktivitas ini. Demikian juga dengan siswa, jika ada tugas untuk satu mata kuliah digunakan lagi untuk mata kuliah yang lain, juga tergolong dalam aktivitas ini.
5. Membawa dan/atau menggunakan catatan atau perangkat yang tidak diijinkan (secara ilegal) selama ujian. Misal, ngrepek, nyimpen rumus di kalkulator, PDA, dsb.
6. Memperoleh dan/atau mencari copy soal dan/atau jawaban ujian.
7. Berkomunikasi atau mencoba berkomunikasi dengan sesama peserta ujian selama ujian berlangsung
8. Menjadi pihak penghubung antar peserta ujian yang bekerjasama/melakukan kecurangan, atau menjadi orang yang pura-pura tidak tahu jika ada yang sedang melakukan kecurangan.
Nah, itulah aktivitas yang tergolong dalam academic cheating. Pengklasifikasian aktivitas tersebut rata-rata sama, berdasarkan artikel penelitian dari Wood dan Warnken (2004), Morris dan Killian (2002), Jones, Reid dan Bartlett (2006).
Pesan sponsor: Berbanggalah dengan hasil karya sendiri, dan hargailah originalitas pekerjaan orang laen….
Bahan bacaan :
Jones, Karl., O, Reid, Juliet M.C., and Bartlett, Rebecca. 2006. Views of Academics on Academic Impropriety: Work in Progress. International Conference on Computer Systems and Technologies – CompSysTech’2006. pp. IV.8-1 – 8-6.
Morris, Sr., David E., and Killian, Claire McCarty. 2006. Do Accounting Students Cheat? A Study Examining Undergraduate Accounting Students Honesty and Perceptions of Dishonest Behavior. Journal of Accounting, Ethics and Public Policy, Volume 5 No. 3, http://www.ssrn.com/abstract=1010277
Wood, Gail and Warnken, Paula. 2004. Managing Technology, Academic Original Sin: Plagiarism, the Internet, and Librarians. Journal of Academic Librarianship, May2004, Vol. 30 Issue 3, p237-242
Topik Penelitian Akuntansi June 29, 2008
Posted by pepiediptyana in Uncategorized.10 comments
Saya merangkum beberapa hasil penelitian tentang topik apa saja yang dapat dibahas di penelitian akuntansi. Ternyata, topik akuntansi keuangan (yang berbau saham, obligasi, dll) masih mendominasi. Lalu, apakah jika suatu penelitian akuntansi tidak membahas saham, apakah dapat dikatakan bahwa penelitian tersebut bukanlah penelitian akuntansi? Ternyata nggak juga….. Beberapa peneliti tentang perkembangan penelitian akuntansi menggunakan indikator jenis rujukan untuk mengelompokkan bahwa suatu penelitian adalah penelitian akuntansi. Maksudnya, jika referensi penelitian didominasi oleh jurnal akuntansi atau buku akuntansi, maka penelitian tersebut tergolong dalam penelitian akuntansi.
Oler, Oler and Skousen (2008 ) membagi topik penelitian akuntansi menjadi tiga topik: akuntansi keuangan, akuntansi manajerial, pengauditan, perpajakan, governance (corporate governance dan pengendalian), dan topik lain-lain (edukasi, sejarah, ujian CPA, dan sebagainya yang tidak ada di pembagian topik sebelumnya). Mereka menyatakan bahwa suatu penelitian dapat dikatakan sebagai penelitian akuntansi jika penelitian tersebut menunjukkan pengaruh kejadian ekonomi (economic events) terhadap proses pengikthisaran, analisis, pemverifikasian, dan pelaporan informasi keuangan yang terstandar, serta pengaruh dari informasi yang disajikan terhadap kejadian ekonomi (economic events).
Efendi, Mulig, dan Smith (2006) menyimpulkan bahwa terdapat kesenjangan topik penelitian antara akuntansi keuangan dengan sistem informasi. Di lingkup jurnal akademis, terjadi peningkatan pemuatan artikel dengan topik akuntansi keuangan, namun hanya sedikit artikel sistem informasi akuntansi (SIA) yang dimuat. Di lingkup jurnal profesi, justru sebaliknya. Peningkatan jumlah artikel SIA yang dimuat terjadi di lingkup jurnal profesi. Kelangsungan profesi staf pengajar di bidang SIA dapat terancam. Mereka menyebutkan pula bahwa jurnal terkenal dan terspesialisasi di bidang SIA dan teknologi informasi adalah Journal of Information Systems (JIS), Journal of Emerging Technologies in Accounting (JETA) – yang keduanya merupakan terbitan American Accounting Association (AAA), dan International Journal of Accounting Information Systems.
Indra Wijaya Kusuma (2003), mengklasifikasikan penelitian akuntansi keperilakuan ke dalam 5 (lima) kelompok schools (dasar aliran), yaitu : (1) Pengendalian manajerial, (2) Pemrosesan informasi akuntansi, (3)Perancangan SIA, (4) Pengauditan, dan (5) Sosiologi organisasional. Isu di bidang Pemrosesan Sistem Informasi Akuntasi adalah isu yang terkait dengan bagaimana pengguna (user) memproses informasi. Tema utamanya, biasanya adalah bagaimana pengguna melihat peran pengungkapan akuntansi dan informasi akuntansi. Isu Perancangan SIA adalah mengenai perilaku dalam merancang sistem informasi suatu organisasi. Isu ini agak kabur dan samar dengan isu mengenai pemrosesan informasi akuntansi. Dua topik utama dalam isu ini adalah mengenai rancangan laporan dan pemilihan kebijakan akuntansi.
Sofyan (2002) menjelaskan bahwa ruang lingkup penelitian akuntansi dapat dikelompokkan menjadi akuntansi keuangan, akuntansi manajemen, pasar uang dan modal, auditing, pajak, sistem informasi akuntansi, trend baru akuntansi, serta topik lainnya.
Trend penelitian normatif akuntansi keuangan yang booming di jamannya Ball and Brown tahun 1968, mungkin yang menyebabkan akuntansi identik dengan akuntansi keuangan. Kini, topik penelitian akuntansi tidak terbatas pada akuntansi keuangan. Mudah2an saja topik-topik penelitian akuntansi selain akuntansi keuangan terus dapat eksis supaya ilmu akuntansi tetap berkembang. Ilmu pengetahuan berkembang akibat adanya penelitian, bukan?
Buku Akuntansi Sektor Publik May 8, 2008
Posted by pepiediptyana in Akuntansi Sektor Publik, Uncategorized.8 comments
Membaca buku bisa menyenangkan, dan bisa membingungkan. Tapi tenang…. menurut saya, bingung itu adalah suatu proses pembelajaran. Jadi, berbanggalah, jika ketika membaca, kita merasa bingung. Dengan bingung, akan ada rasa ingin tau, terus… dan terus… dan terus…. akhirnya, kita terus mencari jawaban kebingungan itu dengan membaca lagi, bukan dengan merepotkan atau membingungkan orang laen dengan kebingungan kita…. –> Nah lho, terlalu banyak kata “bingung” disini, sehingga saya membuat Anda pun menjadi bingung…. :-p
Bagi Anda yang ingin bingung (dan/atau ingin tahu) tentang topik Akuntansi Sektor Publik, ada beberapa buku yang menarik (menurut saya lagi, hehehe…..), yaitu :
- Indra Bastian, 2006, Akuntansi Sektor Publik : Suatu Pengantar, Penerbit Erlangga – Jakarta. –> menurut saya, buku ini yang menarik adalah bagian membuat indikator kinerja, pelaporan kinerja sektor publik. Buku ini komprehensif, di chapter 1 yang menjelaskan karakteristik ASP cukup menarik, teori akuntansi keuangan juga ada, sumber referensi kutipannya juga jelas, jadi bisa browse sumber aslinya jika ada kutipan yang kurang kita mengerti di buku ini, atau ada kutipan yang menarik untuk ditelusur. Oiya, di dua chapter terakhir, ada bab otoda dan pilkada….
- Abdul Halim, 2007, Akuntansi Keuangan Daerah (edisi ketiga), penerbit: Salemba Empat – Jakarta. –> wah, buku ini menarik karena memberi gambaran praktik yang terjadi saat ini. Penulis menyajikan cara-cara menjurnal, ada dua versi : dengan jurnal kolorari, dan tanpa jurnal kolorari, nama-nama akun di laporan keuangan daerah, bagaimana integrasi antar akun-nya. Meski singkat, tapi cukup memberi gambaran. Oleh karena menunjukkan praktik yang sedang terjadi, maka buku ini mungkin saja akan cepat muncul edisi revisi, sesuai dengan kepmen yang berlaku. Bahasan tentang teori akuntansi-nya masih terbatas, tapi cocok untuk kita yang pengen tahu praktiknya
- Forum Dosen Akuntansi Sektor Publik, 2006, Telaah Kritis Standar Akuntansi Pemerintah, penerbit : BPFE UGM Yogyakarta. –> buku ini ditulis oleh banyak orang, berupa kumpulan artikel2. Namanya juga “telaah kritis”, jadi ya gitu deh, banyak mengupas tentang Standar Akuntansi Pemerintah berdasarkan teori akuntansi.
- Forum Dosen Akuntansi Sektor Publik, 2006, Telaah Kritis Buletin Teknis Standar Akuntansi Pemerintah, penerbit : BPFE UGM Yogyakarta. –> Ini juga menarik (buat saya). Telaah terhadap Buletin SAP dengan membandingkan antara teori akuntansi dengan apa yang ada di Buletin SAP, dan dampak2nya.
- Deddi Noordiawan, 2006, Akuntansi Sektor Publik, penerbit : Salemba Empat - Jakarta. –> menurut saya, cocok untuk overview / sekilas pandang tentang akuntansi sektor publik, dan metoda penganggaran sektor publik.
- Imam Ghozali, 2008, Akuntansi Keuangan Pemerintah Pusat (APBN) dan Daerah (APBD), penerbit : Badan Penerbit Univ. Diponegoro – Semarang. –> Cetakannya sederhana, tampilannya juga. Mungkin ini sengaja agar harganya bisa terjangkau. Sesuai judulnya, fokus buku ini adalah pada akuntansi pemerintahan. Yang menarik, prof. Imam ingin menyajikan keterkaitan antara laporan keuangan daerah dengan laporan keuangan pusat.
Sementara itu dulu….
Kalau ingin tau tentang akuntansi sektor publik, tapi untuk entitas selain Pemerintahan, sudah ada juga buku-bukunya…. misal, Akuntansi untuk Yayasan dan lembaga lain, yang ditulis oleh Dr. Indra Bastian. Walaupun, di dalam buku yang judulnya : “Akuntansi Sektor Publik”, umumnya juga ada 1-2 chapter yang membahas akuntansi untuk entitas non-pemerintah. Buku-buku Akuntansi Sektor Publik selain di atas juga ada…
Kalau boleh saya katakan bahwa : jika bidang akuntansi dan manajemen itu masing-masing digambarkan sebagai kurva, ada irisan antara kedua bidang tersebut, maka buku manajemen terpilih pun perlu disimak… Buku yang berupa kumpulan artikel ilmiah karya beberapa dosen di Forum Dosen Akuntansi Sektor Publik berjudul Runtuhnya Sistem Manajemen Keuangan Daerah (2006), juga menarik. Buku ini diterbitkan oleh BPFE UGM Yogyakarta.
Saya rasa semua buku pasti ada sisi yang baru, berbeda dengan buku lain, dan menarik…. Yang menarik bagi saya, belum tentu menarik bagi Anda, bukan?
Tugas ASP Tengah Semester April 21, 2008
Posted by pepiediptyana in Akuntansi Sektor Publik, Uncategorized.1 comment so far
Bagi mahasiswa peserta Akuntansi Sektor Publik semester genap 07-08, silakan download Tugas Tengah Semester disini : tugas-langkah2-akuntansi-keu-daerah
dikumpulkan saat jadwal UTS ASP. Terima kasih.
Basis Pengakuan Transaksi: Basis Akrual vs Basis Kas April 7, 2008
Posted by pepiediptyana in Akuntansi Sektor Publik, Uncategorized.2 comments
Ada dua jenis basis yang umum digunakan untuk mengakui suatu transaksi, yaitu Basis Akrual
(Accrual Basis), dan Basis Kas (Cash Basis). Di beberapa literatur Akuntansi Sektor Publik, ada yang menyebutkan basis Akrual Modifikasian dan Kas Modifikasian. Namun demikian, pemahaman dasar kedua basis yang modifikasian tersebut tetap pada Basis Akrual dan Basis Kas, bedanya ada pada modifikasi penyesuaian di akhir perioda. Standar Akuntansi Keuangan mensyaratkan entitas profit-oriented di Indonesia untuk menggunakan Basis Akrual. Standar Akuntansi Pemerintahan (pada PP No. 24 Tahun 2005), dikenal ada dua jenis basis yang digunakan untuk menyusun Laporan Keuangan, yaitu : Neraca, menggunakan basis akrual, dan Laporan Realisasi Anggaran menggunakan basis kas.
Apa sih bedanya basis kas dan basis akrual?
Basis kas dan basis akrual digunakan untuk mengakui kapan terjadinya suatu transaksi.
Suatu entitas/perusahaan/organisasi yang akuntansinya menggunakan Basis Akrual akan mengakui transaksi pada saat terjadinya.
Contoh transaksi : Usaha Dagang (UD) Takmorugi membeli persediaan barang dagangan senilai Rp 10 juta pada tanggal 10 Desember 2007, dan pembayaran atas pembelian tersebut dilakukan pada 8 Januari 2008. Dengan menggunakan basis akrual, UD Takmorugi mengakui bahwa transaksi pembelian tersebut terjadi pada 10 Desember 2007, sehingga pencatatan pun dilakukan pada 10 Desember 2007. Kalau dilihat dengan jurnal (penerapan double entry accounting / akuntansi berpasangan), maka pencatatan tertanggal 10 Desember 2007, akun “Sediaan Barang Dagangan” di-debet sebesar Rp 10 juta, dan akun “Utang Dagang” di-kredit sebesar Rp 10 juta.
Cara membaca jurnal ini adalah :
Pada 10 Desember 2007, terjadi penambahan Persediaan Barang Dagangan senilai Rp 10 juta yang menimbulkan bertambahnya Utang Dagang senilai Rp 10 juta.
Akibatnya, jika UD Takmorugi di akhir tahun 2007 (31 Desember 2007) menyusun neraca basis akrual, di bagian Aktiva (Harta) bertambahlah akun (account/pos/rekening) Sediaan Barang Dagang senilai Rp 10 juta, dan di bagian Utang (Kewajiban) bertambah pula akun Utang Dagang senilai Rp 10 juta.
Untuk menangani transaksi yang sama, jika UD Takmorugi menerapkan Basis Kas, maka transaksi diakui ketika kas dibayarkan (atau diterima, jika pada kasus penerimaan kas). Akibatnya, di neraca per 31 Desember 2007 tidak ada perubahan apa pun. Transaksi baru diakui pada 8 Januari 2008. Pengakuan transaksi dengan basis kas dicatat dengan jurnal: tertanggal 8 Desember 2008,akun “Sediaan Barang Dagangan” di-debet Rp 10 juta, dan akun “K a s” di-kredit Rp 10 juta
Cara membaca jurnal ini adalah:
Pada 8 Desember 2008, terjadi penambahan Sediaan Barang Dagangan senilai Rp 10 juta yang menimbulkan berkurangnya Kas senilai Rp 10 juta.
Tampak dari contoh di atas bahwa perlakuan akuntansi dengan basis berbeda, akan berdampak pada perubahan jumlah dan komposisi aset yang berbeda. Jika neraca dibuat pada 31 Desember 2007, maka….
Dengan penerapan basis akrual, tampak di neraca 31 Desember 2007 ada Sediaan Barang Dagangan yang bertambah senilai Rp 10 juta, sedangkan jika menerapkan basis kas, maka Sediaan Barang Dagangan ini akan termasuk pada sediaan di tahun 2008 (tidak ada di neraca tahun 2007).
Dengan basis akrual, Utang Dagang diakui muncul pada neraca 31 Desember 2007, tetapi dengan basis kas, Utang Dagang tidak muncul.
Contoh lain, jika terjadi biaya (atau pendapatan)…. Ada perbedaan timing pengakuan transaksi biaya (atau pendapatan) antara basis kas dan basis akrual.
Contoh transaksi :
Pada 17 Desember 2007 bagian akuntansi UD Takmorugi menerima tagihan biaya listrik senilai Rp 2 juta. Pembayaran biaya listrik dilakukan pada 5 Januari 2008.
Dengan basis akrual, biaya listrik tersebut diakui pada 17 Desember 2007. Jika menerapkan basis kas, biaya listrik tersebut diakui pada 5 Januari 2008 (saat membayar). Akibatnya: laba UD Takmorugi pada tahun 2007 akan lebih rendah Rp 2 juta (jika menerapkan basis akrual) daripada laba UD tahun 2007 (jika diterapkan basis kas). Mengapa? Karena dengan basis akrual, UD Takmorugi telah mengakui biaya listrik pada tahun 2007, sedangkan dengan basis kas, biaya tersebut baru diakui pada tahun 2008.
Contoh2 di atas sekedar menggambarkan sederhana bahwa penggunaan basis yang berbeda akan berdampak ke komponen laporan keuangan, yang kemudian dapat berdampak pada persepsi pengguna laporan keuangan terhadap kondisi entitas penyaji laporan keuangan. Selanjutnya, persepsi yang berbeda dapat menimbulkan keputusan yang berbeda. Oleh karena itulah, penyaji laporan keuangan harus mengungkapkan basis yang digunakan…