jump to navigation

Nasib Dosen May 27, 2007

Posted by pepiediptyana in Uncategorized.
trackback

Ada joke bahwa orang yang bekerja sebagai Dosen itu adalah orang yang penggaweane sak dos, bayarane sak sen (pekerjaannya satu dos – maksudnya : banyak, gajinya satu sen). Seakan-akan profesi dosen ditakdirkan untuk hidup dengan strata ekonomi yang rendah (meski strata sosial tinggi… ups!). Sampai ada gossip bahwa bagi lulusan perguruan tinggi yang memilih bekerja menjadi dosen, harus siap menjadi miskin. Bisakah dosen mengandalkan profesinya untuk hidup layak bin sejahtera?

Pekerjaan Dosen sebetulnya terdiri dari tiga hal sebagaimana yang sering disebut dengan “menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi”, yaitu: pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat. Dosen tuh diangkat oleh penyelenggaran pendidikan (bisa pemerintah maupun masyarakat penyelenggara pendidikan formal) dan pekerjaannya adalah mentransformasikan ilmu melalui pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Dengan demikian, penilaian kredit untuk kenaikan jabatan-pun, dihitung dari pengumpulan poin ketiga hal tersebut.

Sayangnya, income dosen sering tidak relevan dengan job description-nya. Ada yang dapet income dari proyek pengadaan barang, dari buka warung, jual beli tanah, bunga harta warisan, tunjangan dari mertua, dsb. Jika pekerjaannya adalah menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat, seharusnya income datang dari job requirement-nya.

Income dari poin kerja Pengajaran, adalah yang paling mudah diukur. Income dari Pengajaran ini umumnya terdiri dari tunjangan fungsional dan honorarium mengajar per SKS. Artinya, kalau tidak kena wajib mengajar atau sedang studi lanjut, ya ngga bakal terima tunjangan fungsional, dan kalau tidak mengajar di atas jumlah SKS wajib, ya tidak mendapat honorarium. Oleh karena itu, setiap awal semester, kasak-kusuk jumlah SKS yang diampu sudah menjadi hal yang lumrah. Jumlah SKS sifatnya adalah variable income (di luar jumlah SKS yang wajib diampu karena ada tunjangan fungsional). Variabel income akan menentukan rencana belanja, misalnya: “kalau semester ini ngajar banyak, saya mau kredit kulkas”.

Yang ngga jelas, justru income dari poin Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Di setiap proposal Penelitian, seringkali akun Honor Peneliti sudah dibatasi dalam bentuk nominal, misal: maksimal Rp 2 juta, untuk biaya penelitian yang bernilai Rp 10 juta. Akhirnya, karena uang dari pengajaran kurang, ya muncullah discretionary behavior: honor tetap 2 juta, tapi nanti diambilkan tambahan income dari pos-pos lain. Demikian juga dengan kegiatan Pengabdian Masyarakat. Honor-pun dibatasi. Bahkan, ada yang mensyaratkan : Tidak boleh mencantumkan honor. Apakah ini terjadi karena judul pekerjaannya adalah “mengabdi”? Penelitian sudah kehilangan jati dirinya dalam mencari kebenaran. Pengabdian masyarakat pun juga nyaris kehilangan makna karena program sesaat dan masyarakat belum sempat menuai manfaatnya.

Adalah tanggung jawab penyelenggara pendidikan, baik itu institusi pendidikan serta pembuat dan pengesah undang-undang untuk mengelola sumber daya Dosen-nya sebagai asset pendidikan. Adalah tanggung jawab Dosen untuk menjaga idealisma profesi. Pengelola pendidikan dan dosen mengampu tanggungjawab yang sama: kualitas pendidikan. Pengelola ya mikirin kebutuhan dosen, si dosen juga mikiri kebutuhan pengelola. Kolaborasi kesadaran di antara keduanya (antara pengelola institusi dengan dosen) akan mampu mengurangi keraguan dosen terhadap sustainability insitusi dan juga profesi. Tidak akan pernah ada ceritanya dosen kaya karena harta turunan, dosen dipenjara karena makan uang hibah, dosen miskin karena ngga kecipratan proyek, dlsb. Seandainya sistem pengelolaan pendidikan bisa mengalirkan uang dari idealisma (job requirement) dosen, saya rasa, kualitas pendidikan pun akan lebih baik. Ah, lagi-lagi masalah sistem…. :-(

klik juga: Dana Penelitian Dosen Muda Dihapus

Comments»

1. Luciana Spica Almilia - May 27, 2007

Mungkin warga negara Indonesia itu adalah warga negara yang konservatif bu ……….. tapi nggak jelas juga sih antara konservatif dan curiga beda-beda tipis he he he Maunya konservatif takut kalo dana penelitian bakal dikorupsi sama dosen-dosen kali makanya harus dibatasi.

Tapi kalo menurut saya percuma dong kalo kita gembor2kan tentang akuntabilitas, good corporate governance dan kawan-kawannya tapi disana-sini masih dibatasi. Karena kecenderungan adanya pembatasan seringkali menimbulkan discretionary behavior dan konsep akal2an aja yang dibuat masuk akal. he he he So positive thingking aja lah

2. Paijo - May 29, 2007

Yang lebih parah dari dosen adalah GURU, waGU tur kuRU karena gaji dan tunjungannya lebih rendah daripada dosen sementara pekerjaannya sama banyaknya. Karena kelebihan pekerjaan, maka guru kecapekan sehingga dino mingGU tuRU. Terimakasih dan salam eksperimen.

3. Sasongko Budi - May 31, 2007

hmmmm tapi kan tiap tahun dapat juga bonus tuh pas acara wisuda hehehe….:) bonusnya adalah Lagu Hymne Guru.
Keep enjoy lah.

4. RA Kartini - June 3, 2007

yang sabar ya nduk, ngga semua orang pintar mau jadi guru/dosen, hanya orang yang pintar yang berhati luas yang bersedia. Pangeran seng mbales nggeh …

5. RIRI SATRIA - June 3, 2007

Jujur saja, jika berprofesi sebagai dosen, maka mungkin apa yang Mbak Pepie sampaikan di atas ada benarnya. Nah, anggaplah situasi yang digambarkan tsb memang seperti itu adanya, lantas apa yang bisa dilakukan ? Misalnya saya sendiri. Saya merasa senang berada di dunia kampus dengan segala aktivitasnya, tetapi saya harus realistis dengan kenyataan hidup. Jadilah pekerjaan utama bukan dosen, dan menjadi dosen adalah pekerjaan part-time (walaupun dengan komitmen tertentu) .. salam dari Jakarta …

6. Romi Satria Wahono - June 6, 2007

Jadi susah komentar :) Mau ngejar SKS banyak juga sebenarnya dibatasi dikti hehehe … Cuman perdjoeangan harus tetap dilakukan, kalau dosen cerdas pada ngilang, mahasiswa semakin kasihan, masa depan pendidikan juga semakin tidak menentu :(

7. Prayogi - June 9, 2007

Telah putus suatu amalan, ketika manusia mati… Kecuali tiga perkara:
1.Anak yang selalu mendoakan orang tua
2.harta yang diwakafkan
3.ILmu yang bermanfaat

Dosen merupakan pekerjaan yang sangat mulia… tidak akan putus pahala orang yang mengajarkan sesuatu yang bermanfaat bagi banyak manusia… so tetap semangat! ^_^

8. laksono - June 15, 2007

:D kayaknya dimana-mana podo wae deh…

hehe… tetep semangat

9. Tri Basoeki Soelisvichyanto - July 17, 2007

jadi dosen atau guru memang tidak mudah, namun yg pasti tak ada guru tak ada yang namanya transfer ilmu…

10. Dedy - July 18, 2007

wah dah lama nich aku ga pernah tau perkembangan perbanas…jadi aku boleh ikut nimbrung ya????????/

11. rendi - August 26, 2007

betul..sampai kapan ya akan ada perbaikan bagi dunia pendidikan di indoensia???? paling tidak peningkatan kesejahteraan guru dan dosen…
Bener kata mas romi… saat ini (yg saya ketahui dan alami) banyak temen2 dosen yg kebetulan lagi melanjutkan studi ke LN, pas pulangnya, pada ga balik lagi ke insitusi awalnya, ya mo gmana lagi, meski pekerjaan dikategorikan sebagai pengabdian, tetep aja hrs realistis….. biaya pendidikan anak semakin mahal dan ongkos hidup juga makin mencekik..
Duh..mo dibawa kemana pendidikan dan masa depan bgs ini….. cape dehh

12. mamaendang - September 18, 2007

sebagai dosen sudah saatnya kita meng up grade kemampuan manajerial kita, sehingga tugas kita tidak hanya mentransfer ilmu kepada mahasiswa, tapi ikut membantu bagaimana memanage sebuah institusi yang dapat menghasilkan unit-unit bisnis, dan kita ciptakan lulusan yang berjiwa entrepreneur.

13. Lestat - September 26, 2007

kayakna jadi dosen ga miskin2 amat, toh ga sedikit alias banyak dosen yang bisa beli mobil ato punya mobil pribadi… kalo aq punya otak yg brilliant, aq mau jd dosen, cuz jd dosen ilmunya ga bisa hilang, udah pinter pinter teyuz or mb nambah pinter kan tiap hr teachin’, n studyin’…
is that right???

14. Ryan - April 27, 2010

Dosen orang pinter namun digaji kualifikasi rendah. Coba deh dosen harus ngejar S1, S2, S3 dan guru besar yg mencapainya penuh perjuangan, ninggalin keluarga, korbankan waktu dan tenaga, mencerdaskan generasi tapi gajinya…duh kalah sama pegawai pajak yg hanya lulusan S1 atrau Dewan yg lulusan SMA. Parah…parah apresiasi kebalik makanya negara ini jadi jungkir balik.

Bukti negara2 yang maju pasti memperhatikan pendidikan…so pasti bukti nyata Jepang, Finlandia, dan tak usah jauh Malaysia.

Pusiiing…….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.