jump to navigation

Topik Penelitian Akuntansi June 29, 2008

Posted by pepiediptyana in Uncategorized.
trackback

Saya merangkum beberapa hasil penelitian tentang topik apa saja yang dapat dibahas di penelitian akuntansi. Ternyata, topik akuntansi keuangan (yang berbau saham, obligasi, dll) masih mendominasi. Lalu, apakah jika suatu penelitian akuntansi tidak membahas saham, apakah dapat dikatakan bahwa penelitian tersebut bukanlah penelitian akuntansi? Ternyata nggak juga….. Beberapa peneliti tentang perkembangan penelitian akuntansi menggunakan indikator jenis rujukan untuk mengelompokkan bahwa suatu penelitian adalah penelitian akuntansi. Maksudnya, jika referensi penelitian didominasi oleh jurnal akuntansi atau buku akuntansi, maka penelitian tersebut tergolong dalam penelitian akuntansi.

Oler, Oler and Skousen (2008 ) membagi topik penelitian akuntansi menjadi tiga topik: akuntansi keuangan, akuntansi manajerial, pengauditan, perpajakan, governance (corporate governance dan pengendalian), dan topik lain-lain (edukasi, sejarah, ujian CPA, dan sebagainya yang tidak ada di pembagian topik sebelumnya). Mereka menyatakan bahwa suatu penelitian dapat dikatakan sebagai penelitian akuntansi jika penelitian tersebut menunjukkan pengaruh kejadian ekonomi (economic events) terhadap proses pengikthisaran, analisis, pemverifikasian, dan pelaporan informasi keuangan yang terstandar, serta pengaruh dari informasi yang disajikan terhadap kejadian ekonomi (economic events).

Efendi, Mulig, dan Smith (2006) menyimpulkan bahwa terdapat kesenjangan topik penelitian antara akuntansi keuangan dengan sistem informasi. Di lingkup jurnal akademis, terjadi peningkatan pemuatan artikel dengan topik akuntansi keuangan, namun hanya sedikit artikel sistem informasi akuntansi (SIA) yang dimuat. Di lingkup jurnal profesi, justru sebaliknya. Peningkatan jumlah artikel SIA yang dimuat terjadi di lingkup jurnal profesi. Kelangsungan profesi staf pengajar di bidang SIA dapat terancam. Mereka menyebutkan pula bahwa jurnal terkenal dan terspesialisasi di bidang SIA dan teknologi informasi adalah Journal of Information Systems (JIS), Journal of Emerging Technologies in Accounting (JETA) – yang keduanya merupakan terbitan American Accounting Association (AAA), dan International Journal of Accounting Information Systems.

Indra Wijaya Kusuma (2003), mengklasifikasikan penelitian akuntansi keperilakuan ke dalam 5 (lima) kelompok schools (dasar aliran), yaitu : (1) Pengendalian manajerial, (2) Pemrosesan informasi akuntansi, (3)Perancangan SIA, (4) Pengauditan, dan (5) Sosiologi organisasional. Isu di bidang Pemrosesan Sistem Informasi Akuntasi adalah isu yang terkait dengan bagaimana pengguna (user) memproses informasi. Tema utamanya, biasanya adalah bagaimana pengguna melihat peran pengungkapan akuntansi dan informasi akuntansi. Isu Perancangan SIA adalah mengenai perilaku dalam merancang sistem informasi suatu organisasi. Isu ini agak kabur dan samar dengan isu mengenai pemrosesan informasi akuntansi. Dua topik utama dalam isu ini adalah mengenai rancangan laporan dan pemilihan kebijakan akuntansi.

Sofyan (2002) menjelaskan bahwa ruang lingkup penelitian akuntansi dapat dikelompokkan menjadi akuntansi keuangan, akuntansi manajemen, pasar uang dan modal, auditing, pajak, sistem informasi akuntansi, trend baru akuntansi, serta topik lainnya.

Trend penelitian normatif akuntansi keuangan yang booming di jamannya Ball and Brown tahun 1968, mungkin yang menyebabkan akuntansi identik dengan akuntansi keuangan. Kini, topik penelitian akuntansi tidak terbatas pada akuntansi keuangan. Mudah2an saja topik-topik penelitian akuntansi selain akuntansi keuangan terus dapat eksis supaya ilmu akuntansi tetap berkembang. Ilmu pengetahuan berkembang akibat adanya penelitian, bukan?

Comments»

1. lawrance - July 11, 2008

pertamax…..
comment dulu ah baru baca…

2. villya - July 11, 2008

saya mau membuat paper penelitian di bidang akuntansi, tapi saya bingung mau angkat tema apa. saya kepikiran untuk mengangkat tema tentang isu2 terbaru tapi itu juga bingung. mungkin anda bisa membantu saya. terima kasih..

3. ian - August 10, 2008

benar bu. Tapi yang perlu diingat adalah, penelitian pada umumnya, termasuk juga penelitian di bidang akuntansi, selalu dapat dilakukan dalam dua pendekatan. Pendekatan ini terkait dengan bagaimana peneliti membangun argumentasi dalam penelitiannya. Pertama, pendekatan deduktif. Pada pendekatan ini, peneliti melakukan pengujian terhadap teori, preposisi dan konsep yang telah ada, untuk dibuktikan apakah terjadi atau tidak pada konteks kehidupan nyata (tataran praktis). Dalam pendekatan ini, hipotesis menjadi penting. Hipotesis merupakan praduga sementara yang harus dibuktikan dalam penelitian dan harus dikembangkan berdasarkan berbagai teori, preposisi dan konsep. Kedua, pendekatan induktif. Pendekatan ini merupakan kebalikan dan pendekatan pertama. Pada pendekatan ini, penelitian dilakukan dengan mengabstraksikan suatu fenomena, kejadian atau prilaku yang terjadi pada kehidupan nyata, untuk dibangun sebagai cikal bakal teori atau preposisi. Hipotesis tentu tidak diperlukan dalam pendekatan ini. Kedua pendekatan ini mestinya terjadi secara berimbang agar teori dan pengetahuan dapat berkembang. Dapat dibayangkan sebagai semacam siklus, dari tataran abstrak (konseptual) dibawa kepada tataran praktis (konkret) kemudian dari tataran praktis akan digunakan untuk memperbaiki apa yang terdapat pada tataran konseptual.
Penelitian akuntansi ironisnya lebih banyak menekankan pada pendekatan deduktif. Berbagai penetian yang dilakukan kebanyakan menekankan pada pembuktian berbagai macam teori, baik pada domain akuntansi keuangan, audit, akuntansi manajemen, akuntansi sektor publik dan SIA. Penelitian semacam ini hanya untuk menjawab pertanyaan apakah suatu teori terbukti terjadi di tempat dan waktu tertentu saja. Penelitian-penelitian induktif sebenarnya akan lebih mampu menjawab pertanyaan mengapa dan bagaimana. Misalnya penelitian yang dilakukan untuk meneliti mengapa manajer lebih senang memilih metode akuntansi tertentu dibanding metode lain atau bagaimana perusahaan melaporkan aktivitas tanggungjawab sosial-nya. Penelitian seperti ini sangat penting karena selain sebagai pengembangan atau koreksi bagi teori-teori yang telah ada, hasil penelitian ini tentu sangat berguna dalam merumuskan standar akuntansi di negara kita. Karena standar akuntansi atau PABU pada umumnya harus mencerminkan apa yang dipraktekan dunia bisnis bukan sebaliknya, menentukan apa yang harus diprekatikan.

4. suprianto - August 13, 2008

ass
saya setuju banget banyak sekali judul skripsi yang saya temuin
sama cuma diberi tambahan riset saja. bu saya ingin mencari judul dan meneliti tentang CSR pada perusahaan manufaktur langkah2 apa saja bu yang harus saya persiapkan?kebetulan konsentrasi saya akun. manajemen. ada juga yang saya tanyakan isu yang melanda otorisasi/manajemen perusahaan manu.??
wass terima kasih bu
supri

5. syukriy - August 16, 2008

Numpang mampir, mbak Pepie… :)
Saya ndak tahu apakah komentar saya ini cocok masuk ke “ruang” yang ini… Ma’af ya kalau keliru. :-)
Saya kebetulan baru berdiskusi dengan beberapa rekan mahasiswa UNS tentang ide dan strategi untuk melakukan riset di bidang akuntansi sektor publik, khususnya akuntansi pemerintahan. Karena ini baru diskusi kali pertama, maka belum sampai pada topik khusus. Baru pada diskusi konsep dan perbedaannya dengan sektor privat… Saya menuliskan di blog saya: http://syukriy.wordpress.com (hehehe…bikin blog untuk “menarik” ilmu para pakar lebih banyak, semoga para pakar bersedia memberi komen. Lagian, salut dengan blog mbak Pepie yang informatif dan update).
Barangkali mbak Pepie bisa memberikan masukan, komentar, atau kritik sehingga merangsang rekan-rekan lain untuk mengemukakan gagasan dan pendapatnya…
Bagaimana kalau di blog mbak Pepie juga dibuat topik riset sektor publik ini? (atau sudah ada tapi terlewatkan oleh saya?).
Matur nuwun….

6. pepiediptyana - August 27, 2008

# pak Syukriy… pakarnya Akuntansi Sektor Publik nih… Terima kasih idenya, pak… Saya belum berani bikin sub topik tersebut soalnya belum punya banyak bahan, hehehe… Kalo riset ASP memang masih mencari bentuk, saya malah masih mencari arah… (waduh! :-( ). Topik Akuntansi Sektor Publik memang sangat menarik, bermuatan lokal (seperti topik pajak), jadi unik….

7. Qinimain Zain - October 8, 2008

(Dikutip dari: materi Strategic Forum – QPlus Management Strategies 2008)

Strategi Filsafat Penelitian Milenium III
(Butanya Dasar Belajar Mengajar: Theory of Everything)
Oleh: Qinimain Zain

FEELING IS BELIEVING. MEREKA (para peneliti – QZ) seakan-akan pelukis yang mengumpulkan tangan, kaki, kepala dan anggota-anggota lain bagi lukisannya dari macam-macam model. Masing-masing bagian dilukis dengan sangat bagus, tetapi tidak dihubungkan dengan satu tubuh sendiri, dan karena sama sekali tidak akan cocok satu sama lain, hasilnya akan lebih merupakan monster daripada manusia (Nicolas Copernicus).

APAKAH (ilmu) pengetahuan yang terkumpul, dipelajari, dimiliki dan diajarkan selama ini masih berupa monster? Bayangkan sosok gambaran seluruh (ilmu) pengetahuan semesta yang berserakan. Lebih kecil lagi, seluruhnya di satu pustaka. Lebih kecil lagi, di satu cabang ilmu. Lebih kecil lagi, di satu bidang ilmu. Lebih kecil lagi, satu hal sosok gambaran tentang semut, puisi, manajemen atau jembatan saja, terdiri atas potongan kacau banyak sekali. Potongan-potongan tulisan sangat bagus sampai buruk, jelas sampai kabur, dan benar sampai salah besar, yang tak menyatu, tumpang tindih dan bahkan saling bertentangan meski hal yang sama sekalipun. Ini membuat sulit siapa pun meneliti, belajar dan mengajarkan, ditandai dengan polemik panjang.

Mengapa bisa demikian? Ada analogi menarik cerita lima orang buta ingin mengetahui tentang seekor gajah, yang belum pernah tahu gambaran binatang itu. Selain buta, tubuh mereka berbeda-beda tinggi badannya. Mereka pun berbaris berjajar, menghadap seekor gajah besar yang di keluarkan pemiliknya dari kandang. Orang yang pertama agak tinggi badannya, maju meraba bagian depan memegang belalai dan mengatakan gajah itu seperti ular. Yang kedua sedang badannya, meraba mendapati bagian kaki dan mengatakan gajah seperti pohon kelapa. Yang ketiga tinggi badannya, memegang bagian kuping dan mengatakan gajah seperti daun talas. Yang keempat paling pendek badannya, maju di bawah perut gajah tidak memegang apa-apa dan mengatakan gajah seperti udara. Yang kelima pendek tubuhnya, maju meraba bagian belakang memegang ekor dan mengatakan gajah itu seperti pecut. Tentu, pemahaman gajah sesungguhnya dari kelima orang buta ini akan berbeda bila disodorkan gambar ukiran timbul atau patung kecil seekor gajah sebelumnya.

Seperti itulah, siapa pun yang hanya memahami satu sudut pandang cabang (ilmu) pengetahuan sebagai gambaran pemecahan suatu masalah, tanpa luasan pandang menyeluruh (ilmu) pengetahuan. Memang, merupakan hukum alam segala sesuatu yang seragam (besar sedikit jumlahnya) makin lama makin beragam (kecil banyak jumlahnya), dan pada tingkat kekacauan dibutuhkan sistem keteraturan untuk memahaminya sebagai satu kesatuan. Tetapi, nampak (hampir) mustahil (karena tenaga, waktu dan biaya terbatas) mempelajari seluruh cabang (ilmu) pengetahuan mendapatkan pemahaman luas dan dalam semesta untuk suatu masalah. Betapa beruntung dunia andai sosok kecil gambaran satu kesatuan the body of science itu ada. Gambaran rangkuman prinsip-prinsip satu kesamaaan semua hal dari sekian banyak perbedaan dalam semesta, sebuah Theory of Everything (TOE).

JIKA Anda tahu bagaimana alam semesta ini bekerja, Anda dapat mengaturnya (Stephen William Hawking).

Kemudian, bagaimanakah mengetahui seseorang (dan juga diri sendiri) sebenarnya tergolong buta (karena tanpa TOE) terhadap sosok (ilmu) pengetahuan dimiliki sekarang?

Dengan sopan dan rendah hati, semua peneliti, pengajar atau siapa pun bidang apa pun harus menanyakan: Apa prinsip dasar asumsi penelitian, belajar dan mengajar (ilmu) pengetahuan yang diteliti, dimiliki atau diberikan? Jika jawaban berupa kalimat retorika atau basa-basi, mungkin ia (dan kita) tergolong masih buta tentang the body of science hal bidang ilmu pengetahuan itu.

Lalu, apa rangkuman (kecil) prinsip dasar asumsi TOE dalam meneliti, belajar, mengajar dan mengelola ilmu pengetahuan hal apa pun?

KETIDAKMAMPUAN seseorang untuk menjelaskan idenya secara singkat, barangkali dapat merupakan tanda bahwa dia tidak mengetahui pokok persoalan secara jelas (C. Ray Johnson).

Ilmu pengetahuan (obyek empiris) dinyatakan benar ilmu pengetahuan selama asumsi dasar diakui, yaitu ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang teratur (systematic knowledge) (pernyataan yang diterima setelah abad XVII) (The Liang Gie, 1997:380). Tanpa asumsi dasar keyakinan adanya keteraturan ini, proses meneliti, belajar mengajar apa pun yang di bangun di atasnya hanyalah potongan-potongan pengetahuan yang tidak efektif, efesien dan produktif. Seperti pernyataan jernih ilmuwan Carl Sagan, bahwa jika kita hidup di atas sebuah planet di mana segala sesuatu tidak pernah berubah, sedikit sekali yang bisa dikerjakan. Tidak ada yang harus dibayangkan, dan tidak akan ada dorongan untuk bergerak menuju ilmu pengetahuan. Namun jika kita hidup di dalam dunia yang tidak bisa diramalkan di mana semua hal berubah secara acak atau dengan cara sangat rumit, kita juga tidak akan bisa menggambarkan semua keadaan. Di sini juga tidak ada ilmu pengetahuan. Tetapi kita hidup di dalam semesta yang berada di kedua keadaan ini. Di alam ini semua keadaan berubah, tetapi mengikuti pola, aturan, atau mengikuti yang kita katakan sebagai hukum-hukum alam.

Lebih jelas, prinsip dasar asumsi keteraturan ini diurai Jujun S. Suriasumantri (1977:7-9) dengan baik, yaitu obyek empiris (tertentu) itu serupa dengan lainnya seperti bentuk, struktur, sifat dan lain-lain, lalu (sifat) obyek tidak mengalami perubahan dalam jangka waktu tertentu (meski pasti berubah dalam waktu lama yang berbeda-beda), serta tiap gejala obyek bukan bersifat kebetulan (namun memiliki pola tetap urutan sama atau sebab akibat). Akhirnya, saya memastikan rincian prinsip dasar asumsi keteraturan ilmu pengetahuan ini dalam TOTAL QINIMAIN ZAIN (TQZ): The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Science, bahwa definisi ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang memiliki susunan kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang teratur. (Teratur pada TQZ Scientific System of Science adalah teratur sama dalam fungsi, jumlah, urutan, kaitan, dan paduan menyeluruh di semesta meski hal berbeda apa pun). Sebuah TOE, jawaban masalah dasar dan besar yang menghantui pikiran manusia selama dua ribu tahun atau dua millennium.

TEORI adalah sekelompok asumsi masuk akal dikemukakan untuk menjelaskan hubungan dua atau lebih fakta yang dapat diamati, menyediakan dasar mantap memperkirakan peristiwa masa depan (JAF Stoner).

TOE penting sekali dalam meneliti, belajar mengajar dan mengelola bidang apa pun. Memecahkan suatu masalah sulit, tetapi mengenali (fenomena) masalah lebih sulit lagi. Dengan mengetahui dan memahami TOE, sangat membantu mengenali bila berhadapan atau merasakannya. Misal, seseorang telah disodorkan gambaran prinsip dasar asumsi keteraturan ilmu pengetahuan akan lebih mudah untuk mengambil kesimpulan jika suatu saat menghadapi (fenomena) satu atau banyak masalah, meski belum pernah dikenalnya. Jadi, fungsi TOE – pada TQZ Scientific System of Science tak lain sebuah paradigma scientific imagination benchmarking sistematis, berupa metode synectic kreatif menggunakan metafora dan analogi rinci menuntun suatu usaha memilih jalur proaktif terhadap suatu hal dengan memperhatikan fakta dan kemungkinan yang telah diidentifikasi dan dileluasakan, dengan lima dasar (posisi), fase (kualitas) dan level (sempurna). Suatu mental image atau model ilmiah analogi fenomena semesta dalam bentuk keteraturan yang dapat dipahami.

Contoh sederhana (meski sebagai TOE belum cukup teratur), jika gambaran prinsip dasar asumsi keteraturan tubuh mahluk hidup sempurna memiliki kepala, dada, perut, tangan dan kaki, sedang lainnya berupa bagian tambahan tubuh. Maka, seseorang yang meyakini dan memahami keteraturan ini akan melihat persamaan fungsi tubuh pada ikan gabus, kupu-kupu, monyet, ular dan burung pipit, selain perbedaan bagian itu. Dengan prinsip dasar asumsi keteraturan itu, tubuh mahluk hidup akan lebih mudah diteliti, pelajari dan diajarkan dengan benar, bahkan terhadap mahluk hidup unik lain yang baru dilihat.

KARYA seorang ilmuwan berlandaskan keyakinan bahwa alam pada pokoknya teratur. Bukti yang menunjang keyakinan itu dapat dilihat dengan mata telanjang bukan hanya pada pola sarang lebah atau pola kulit kerang, tetapi ilmuwan juga menemukan keteraturan pada setiap tingkat kehidupan (Henry Margenau).

Bukti monster (ilmu) pengetahuan demikian besar, merugikan dan banyak di sekeliling. Contoh monster-monster itu, dalam seminar dan diskusi, buku dan makalah, ulasan dan kritikan berbagai masalah di mana-mana tidak menyuguh keteraturan. Misal, bahasan mencipta puisi, cara menulis, atau mendefinisikan sesuatu saja, tanpa jelas kepala, tangan, badan, perut, dan kakinya, bahkan tanpa memastikan yang dijelaskan itu adalah bagian kaki atau kepala. Atau lebih parah lagi, tidak diketahui apakah yang disajikan itu kaki, jari, atau gigi, karena jumlahnya demikian tidak tetap dan berbeda. (Perhatikan kesimpulan utama penyebab masalah dan pemecahannya bidang ilmu hal yang sama sekali pun, bisa satu, dua, tiga, empat, lima, enam, sembilan, tujuhbelas, limapuluhdua, dan seterusnya, belum lagi bicara keteraturan urutan dan kaitan antar penyebab atau antar pemecahan yang disebutkan itu). Apalagi membahas masalah mengenai cara mengatasi krisis pangan, krisis energi atau strategi keunggulan usaha (suatu organisasi, daerah, bahkan negara), pasti monster lebih mengerikan.

Contoh nyata monster raksasa, menunjukkan belum teraturnya kelompok ilmu sebagai ilmu pengetahuan. Deobold B. Van Dalen menyatakan, dibandingkan dengan ilmu-ilmu alam yang telah mengalami perkembangan yang sangat pesat, ilmu-ilmu sosial agak tertinggal di belakang. Beberapa ahli bahkan berpendapat bahwa ilmu-imu sosial takkan pernah menjadi ilmu dalam artian yang sepenuhnya. Di pihak lain terdapat pendapat bahwa secara lambat laun ilmu-ilmu sosial akan berkembang juga meskipun tak akan mencapai derajat keilmuan seperti apa yang dicapai ilmu-ilmu alam. Menurut kalangan lain adalah tak dapat disangkal bahwa dewasa ini ilmu-ilmu sosial masih berada dalam tingkat yang belum dewasa. (Ilmu dalam Persfektif, Jujun S. Suriasumantri, 1977:134). Juga C.A. Van Peursen, dalam tahap perkembangan ilmu pengetahuan kemajuan bidang ilmu alam lebih besar daripada ilmu kehidupan, dan ilmu kehidupan lebih maju dari ilmu kebudayaan (Strategi Kebudayaan: 1976:184-185). Sedang di dunia akademi, berjuta-juta hasil penelitian seluruh dunia kurang berguna dan sukar maju karena berupa monster maha raksasa, tanpa TOE yang merangkai sebagai satu kesatuan the body of science.

Akhirnya, bagaimana mungkin (manusia) siapa pun yang terlibat proses meneliti, belajar, mengajar dan menggunakan ilmu pengetahuan sepanjang hidup dapat berpikir tenang, selama prinsip dasar asumsi keteraturan (ilmu) pengetahuannya belum beres? Sebab, jika prinsip dasar asumsi keteraturan ilmu pengetahuan yang didapat dan diberikan saja kebenarannya meragukan, maka kredibilitas kemampuan, nilai, gelar (dan status) seseorang (dan organisasi) itu pun diragukan. Karena, sebenar atau setinggi apa pun nilai memuaskan didapat dari pendidikan dengan pelajaran bahan yang buruk atau salah, tetaplah buruk atau salah, (setelah mengetahui bagaimana kebenaran suatu hal itu) sebenarnya. Dan, tanpa keteraturan TOE, penelitian dan belajar mengajar, seminar dan diskusi, buku dan makalah, ulasan dan kritikan berbagai masalah terus menghasilkan monster di mana-mana. Banyak buang tenaga, waktu dan biaya percuma. Fatal dan mengerikan.

LEBIH baik menjadi manusia Socrates kritis yang tidak puas, daripada menjadi babi tolol yang puas (Henry Schmandt).

BAGAIMANA strategi Anda?
*) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)

8. dwi - October 10, 2008

pagi mbak…
mbak,,saya mau minta tolong ni..
saya mahasiswa akuntansi di salah satu politeknik di Medan, disemester ini sy belajar mngenai metode penelitian,dan dosen sy mmberi tugas utk mmbuat pnelitian yg topknya sesuai dgn jurusn sy ysitu akuntnsi,,tp s bngung plus ga ngrti mbak,,mbak bs bntu sy???plizzzz..

mksih mbak…

dwiemuchuuu@gmail.com

9. dwi - October 10, 2008

pagi mbak…
mbak,,saya mau minta tolong ni..
saya mahasiswa akuntansi di salah satu politeknik di Medan, disemester ini sy belajar mngenai metode penelitian,dan dosen sy mmberi tugas utk mmbuat pnelitian yg topknya sesuai dgn jurusn sy ysitu akuntnsi,,tp s bngung plus ga ngrti mbak,,mbak bs bntu sy???plizzzz..

mksih mbak…

dwiemuchuuu@gmail.com

10. nandito - November 3, 2008

Bu pepi yth
Dalam diskusi sy bersama teman2, diujungnya terdapat masalah yg kami ngabisa tuntasin dikusi tentang pengukuran akuntansi sektor publik, pada aspek manfaatnya. dimana ukuran yang jelas dari alokasi anggaran pemerintah daerah terhadap perubahan masyarakat yang dapat diukur dengan rumus atau model perhitngan seperti apa ????? (contoh kasus, kami alokasi anggaran sektor pendidikan terhadap peningkatan kecerdasan anak, atau alokasi anggaran bidang kesehatan terhadap derajat kesehatan masyarakat), oleh karena ujung dari pembangunan, untuk memberikan dampak pada kesejahtraan rakyat, namun akuntansi berputar pada laporan keuangan, sedangkan dalam aspek perumusan anggaran (RKA) apakah sudah dapat dimasukan model yang dapat memperhitungkan dampak dari implementasi anggaran pemerintah terhadap masyarakat ????? jika iya model yang efektif yang dapat dimasukan dalam sistem, agar dalam perumusan RKA sudah dapat memberikan gambaran aktual dari aliran investasi pemerintah.
Mohon penjelasannya

11. Adhit Herwansyah - September 28, 2009

Ada beberapa topik penelitian yang mungkin dapat menjadi ide penelitian anda, silahkan kunjungi situs kami
http://repository.gunadarma.ac.id

12. fitri - November 4, 2009

mbak bisa minta tolong?tolong carikan judul penelitian yang bagus di bidang akuntansi…please….

13. luthfi - February 19, 2010

saya sangat intrest dengan blog mbak….
kalo boleh kirimkan artikel mengenai penelitian akuntansi ke blog saya ya mbak… makasih….:www.muhammadluthfi.wordpress.com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: