jump to navigation

Technophile vs Technophobe March 31, 2007

Posted by pepiediptyana in Sistem Informasi Akuntansi, Uncategorized.
trackback

Akhir2 ini topik laptop untuk anggota DPR sedang banyak diperbincangkan. Bahkan beberapa waktu lalu saya mendapat satu email joke yang sama dari 3 milis berbeda, tentang itu. Mengikuti perkembangan teknologi itu perlu, apalagi kalo kita udah mengklaim bahwa informasi adalah sumberdaya kita untuk memperoleh competitive advantage. Teknologi menjadi tools agar pekerjaan kita lebih efektif dan efisien.

Sidaway (2005) mengkategorikan sikap seseorang akuntan ketika menghadapi perkembangan teknologi, ke dalam 2 kelompok:

1. Technophile: sikap antusias terhadap teknologi baru

2. Technophobe: sikap menghindar/menolak teknologi baru

Mana yang lebih baik: technophile, atau technophobe?Ngga ada yang lebih baik. Kecenderungan ke salah satu sikap akan memberi dampak yang mengerikan.

Sidaway mencontohkan profesi akuntan yang technophile dan technophobe. Ketika ia menjadi klien sebuah kantor akuntan yang masih “tradisional”, ia meragukan keakuratan dan ketepatan waktu informasi keuangan yang dihasilkan. Pola kerja kantor akuntan yang para akuntannya pada technophobe, digambarkan dengan adanya pencetakan surat-surat, pemrosesan angka-angka yang masih manual, dan belum mengoptimalkan komputer sebagai sistem informasi. Proses itu menimbulkan image bahwa kantor akuntan itu tidak aware dengan kualitas data.

Pola kerja kantor akuntan yang para stafnya technophile, ternyata sama menakutkannya. Mereka menunjukkan kecanggihan-kecanggihan, tapi tidak memanfaatkannya untuk efektifitas dan efisiensi pekerjaannya.

Trus, yang baik yang gimana… ya yang balance. Klise ya? Tapi menurut saya, balance-nya itu tetep memberi technophile dengan bobot yang sedikit lebih banyak. Gimana-gimana juga kita ngga bisa lepas dari Moore’s Law yang bilang bahwa setiap 18 bulan akan muncul teknologi komputer baru yang kapasitasnya 2 kali lebih besar, dan kecepatannya 2 kali lebih cepat. Jadi persaingan untuk me-manage informasi itu menjadi ketat. Byuh…byuh… Cepet banget muncul info baru yak? Gimana nganalisisnya? Nah…

Trus, sikap yang baik laennya adalah, sikap fokus ke tujuan. Tanyakan pada diri sendiri: “mengapa aku perlu?” jawabannya ada pada tujuan penggunaan. Dengan ini, kita bisa lebih merasakan dan mengoptimalkan manfaatnya. Kita pun bisa memahami orang2 yang beli barang canggih (dengan duit mereka sendiri) untuk hepi2… karena jelas2 mereka karena butuh hiburan…. tujuannya memang just for fun, bukan untuk bekerja… Kita pun tidak memandang aneh orang tua siswa yang menulis surat manual tulisan tangan untuk menulis surat ijin tidak masuk anaknya yang sakit …

Ok, kembali ke laptop…. Sikap anggota DPR yang minta laptop itu technophile atau bukan ya?

Saya rasa, cibiran2 kepada anggota DPR itu timbul karena penggunaan uang rakyat, yang rakyat ngga pernah tau output dari penggunaan uang itu. Rakyat ngga pernah merasakan manfaat punya wakil rakyat… Ironis. – [statement saya ini di luar pembenaran dengan mempertanyakan: “rakyat yang mana yg ngga merasakan manfaatnya?? “–> untuk itu, silakan meneliti dengan event study dengan topik: persepsi masyarakat terhadap kinerja DPR pasca perolehan laptop 21.5 juta, hehehe… ] 😦

click this, please.. :” Bill Gates bilang…”

Reference:

Sidaway, Grant. 2005. Are You Up With The Play?. Chartered Accountants Journal. March., hal. 29-31.

Comments»

1. Sasongko Budi - April 4, 2007

..yang jelas love is psychedelic ….. hehehe (habis istilahnya aja juga menakutkan….. asal jangan fedophile hahahahahaha….)

2. pepiediptyana - April 4, 2007

waduh… jadi inget berita2 Robot Gedheg.. hiiii…😦
ok deh pak, setuju dengan love is psychedelic-nya…. apalagi pake ndelik2… ihik!
thank’s commentnya boss..🙂

3. Rees-Q - April 4, 2007

Hehe…boleh juga bu judul even study-nya. Tapi, saya bertanya dalam hati ( maaf ) : waduh! sampelnya bisa berlapis ratusan donk kaya oReo. Wajar lah bu minta laptop. Kan anggota majelis kita yang duduk di sana para artis semua. Jadi sambil rapat menentukan nasib negara kita yang cukup…. memprihatinkan ( seperti yang ibu bilang di artikel lain yang sudah saya baca ) mereka tetap bisa connect internet tanpa kabel kaya kampuz kita, trus bisa diwawancarai online untuk segera diberitakan di acara gosip yang penayangannya setiap saat kaya mottonya rexona itu. Intinya…. sebagai wakil rakyat nasib mereka serupa seperti contoh technophile di kantor akuntan yang ibu ceritakan ( menurut versi saya sendiri ). Sukses selalu buat ibu

4. medvis - April 14, 2007

“Kita pun tidak memandang aneh orang tua siswa yang menulis surat manual tulisan tangan untuk menulis surat ijin tidak masuk anaknya yang sakit …”

– Tapi kita sebagai mahasiswa memandang aneh pada dosen2 yang masih mentabukan pengerjaan tugas2 yang menggunakan komputer, dengan motif “kejujuran dan plagiat”..🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: