jump to navigation

Academic Cheating (Kecurangan Akademis) August 27, 2008

Posted by pepiediptyana in Uncategorized.
trackback

Teknologi memang diciptakan untuk memudahkan seseorang untuk melakukan pekerjaan, termasuk melakukan kecurangan. Contoh, desain keyboard yang memudahkan untuk proses editing, ternyata juga memfasilitasi copy-cut-paste para pelaku plagiat. Tengoklah ke keyboard: huruf X (ctrl+X = cut), C (ctrl+C = copy) dan V (ctrl+V=paste) kan mepet2 tuh…

Bicara tentang kecurangan, khususnya di bidang akademik, Wood dan Warnken (2004) dua orang peneliti tentang e-cheating mengklasifikasikan 8 jenis aktivitas yang tergolong dalam kecurangan akademik, yaitu:

1. Plagiat (plagiarism), yaitu aktivitas seseorang yang meniru (imitate) dan/atau mengutip (secara identik tanpa modifikasi) pekerjaan orang laen tanpa mengungkapkan/menyebutkan nama penulis sebelumnya, dan meng-klaim bahwa tulisan tersebut adalah hasil karyanya. Orang yang melakukan ini disebut: plagiarist. Cut atau copy then paste ngga dosa, selama mencantumkan sumber (nama penulis, tahun, dst) yang sebelumnya.

2. Collussion, yaitu unofficial collaboration (maksudnya, kerjasama yang tidak diijinkan) antara dua orang atau lebih (baik antar siswa maupun antara siswa dengan dosen/guru) untuk mengerjakan tugas atau ujian, agar salah satu pihak atau kedua pihak diuntungkan dengan nilai yang diperoleh.

3. Falsification, yaitu memasukkan hasil pekerjaan orang laen, yang sudah diganti namanya, dan diakui sebagai pekerjaannya.

4. Replication, yaitu memasukkan / mengumpulkan hasil pekerjaan / tugas yang sama, baik seluruhnya maupun sebagian (a piece of work) ke dalam lebih dari satu media, dengan tujuan supaya mendapat nilai atau kredit/poin tambahan. Jadi gini, kalo ada dosen yang memasukkan artikelnya di lebih dari satu jurnal penerbitan, baik tulisannya itu utuh atau dipotong-potong tapi isinya sama aja, dengan tujuan untuk memperoleh kredit yang banyak, nah, itu tergolong dalam aktivitas ini. Demikian juga dengan siswa, jika ada tugas untuk satu mata kuliah digunakan lagi untuk mata kuliah yang lain, juga tergolong dalam aktivitas ini.

5. Membawa dan/atau menggunakan catatan atau perangkat yang tidak diijinkan (secara ilegal) selama ujian. Misal, ngrepek, nyimpen rumus di kalkulator, PDA, dsb.

6. Memperoleh dan/atau mencari copy soal dan/atau jawaban ujian.

7. Berkomunikasi atau mencoba berkomunikasi dengan sesama peserta ujian selama ujian berlangsung

8. Menjadi pihak penghubung antar peserta ujian yang bekerjasama/melakukan kecurangan, atau menjadi orang yang pura-pura tidak tahu jika ada yang sedang melakukan kecurangan.

Nah, itulah aktivitas yang tergolong dalam academic cheating. Pengklasifikasian aktivitas tersebut rata-rata sama, berdasarkan artikel penelitian dari Wood dan Warnken (2004), Morris dan Killian (2002), Jones, Reid dan Bartlett (2006).

Pesan sponsor: Berbanggalah dengan hasil karya sendiri, dan hargailah originalitas pekerjaan orang laen….😉

Bahan bacaan :

Jones, Karl., O, Reid, Juliet M.C., and Bartlett, Rebecca. 2006. Views of Academics on Academic Impropriety: Work in Progress. International Conference on Computer Systems and Technologies – CompSysTech’2006. pp. IV.8-1 – 8-6.

Morris, Sr., David E., and Killian, Claire McCarty. 2006. Do Accounting Students Cheat? A Study Examining Undergraduate Accounting Students Honesty and Perceptions of Dishonest Behavior. Journal of Accounting, Ethics and Public Policy, Volume 5 No. 3, http://www.ssrn.com/abstract=1010277

Wood, Gail and Warnken, Paula. 2004. Managing Technology, Academic Original Sin: Plagiarism, the Internet, and Librarians. Journal of Academic Librarianship, May2004, Vol. 30 Issue 3, p237-242

Comments»

1. Syukriy - January 22, 2009

Saya suka tulisan ini. Sederhana dan menunjukkan apa yang sebenarnya terjadi, tidak hanya di Indonesia, di lingkungan akademik.

Sebenarnya cheating tidak hanya dilakukan oleh mahasiswa, tetapi juga oleh dosen. Kita cenderung melihat persoalan yang menyangkut dosen sekedar masalah etika, namun kalau dosen saja tidak beretika, bagaimana mahasiswanya?

Banyak cerita tentang dosen yang mengambil program pascasarjana, master atau doktor, melakukan plagiasi ketika menulis tesis atau disertasi. Bahkan ada dosen yang dipecat dari kampusnya gara-gara plagiasi ini.

Dalam skala lebih kecil, untuk pengurusan kenaikan pangkat, ada sebagian dosen menjiplak, men-copas, atau bahkan hanya mengganti nama, dari skripsi mahasiswa sebagai karya tulis dosen bersangkutan. Cara yang lebih elegan adalah “menumpang” hasil penelitian mahasiswa untuk diterbitkan di jurnal ilmiah sebagai penulis kedua.

Dosen memang kadang terlalu sibuk sehingga tidak sempat meneliti. Mumpung membimbing mahasiswa, kenapa tidak dimanfaatkan saja? Toh, sang dosen juga memberi kontribusi sebagai pembimbing? Hehehehe…. kembali ke nurani: apakah kita sebagai dosen juga telah jujur mengakui bahwa kontribusi kita memang “signifikan”?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: