jump to navigation

Intermittent Catheterization October 23, 2008

Posted by pepiediptyana in Uncategorized.
trackback

Tulisan saya yang ini ngga ada hubungannya sama sekali dengan akuntansi. Saya ingin berbagi pengalaman saja, mudah-mudahan bermanfaat.

Istilah intermittent catheterization saya kenal 3 hari setelah melahirkan secara spontan (normal). Masalahnya, saya tidak bisa buang air kecil, sehingga harus dibantu dengan pipa kateter untuk mengeluarkan urine. Pasang – lepas kateter dilakukan secara berkala, sehingga disebut dengan istilah intermittent. Berkala-nya itu ada yang tiap 4 jam, ada yg 6 jam, ada yg 8 jam, ada yg se-kebeletnya. Jadi, kateter tidak nyantol terus di tubuh.

Pertanyaan besar yg muncul adalah: Kenapa kok sampe ngga bisa pipis?

Karena aktivitas selama hamil tua yang agak tidak terkontrol, refleks otot uretra saya menjadi lemah, sehingga otot tersebut sulit kontraksi untuk mengeluarkan urine. Selain itu, ditunjang oleh proses mengejan yg “salah” (saya ngga bisa ngempet ketika baby mau keluar, padahal “bukaan” masih belum layak untuk mengejan). Maka, bagi ibu-ibu hamil yg proses pipisnya lama , harus segera bilang ke dokter, supaya bisa segera ditangani. Tentang proses mengejan yg “salah”, kayaknya Wallahualam, deh. Saya bener-bener ngga sanggup ngempet, menahan agar baby tidak mendesak keluar. Kalau saya pikir-pikir, setiap kasus melahirkan 90% kehendak Tuhan, hehehe…. Meski udah latihan senam hamil mulai 6,5 bulan, kadang bisa lupa juga….

Nah, karena reflreks otot uretra yg lemah, maka penanganannya hanya dengan latihan pipis. Untuk mengimbangi latihan tersebut, perlu intermitten catheterization untuk mengeluarkan urine selama saya tidak bisa pipis. Kalau kandung kemih terlalu penuh, latihan pipis tidak bisa efektif.

Suatu catatan penting adalah : tidak semua kasus “tidak bisa pipis” itu bisa diselesaikan dengan “banyak minum”, tapi untuk kasus seperti saya ini, justru minum yg diukur dan diatur. Hati-hati dengan memberi saran, dan menjalankan saran. Kalau diberi saran, bilang terima kasih aja dulu, karena saran adalah bentuk perhatian, meski tidak semua saran itu benar atau layak dicoba…

Ketika masuk rumah sakit lagi dengan status “observasi”, coba catatlah aktivitas-aktivitas. Jam berapa minum, berapa cc, dikateter jam berapa, keluar berapa cc, jam berapa dan berapa lama saya latihan pipis, berapa cc pipis yg bisa keluar normal. Catatan ini berguna untuk melihat progress kesehatan, dan laporkan semua ketika dokter visite.

Bikin catatan medis sendiri tadi berguna juga untuk mengisi kegiatan daripada stress mikir biaya rumah sakit, dan mikir yg ngga-ngga… hehehe…. Ketika di rumah sakit, saya lebih mudah mikir yg jelek2 daripada yang bagus2…. Pikiran jelek ini bisa bikin down, dan munculin penyakit lain. Tekanan darah saya sempat melonjak sampai 140, trus cenut2, dan akhirnya ngga bisa istirahat, trus ngga bisa latihan, deh… ngga ada untungnya mikir yg negatif-negatif. Disini lah peran besar orang-orang tercinta : yg dapat memahami kita, yg bisa menenangkan dan mengingatkan kita. Berserah diri memang ngga semudah yg dinasihatkan, tapi itu obat yg mujarab.

Jika sedang dalam perawatan dengan Intermittent Catheterization, coba :

1. minum 100cc tiap jam, selama 4 jam. Ntar kan terasa agak kebelet. Jika agak kebelet, cobalah untuk latihan pipis.

2. Lakukan senam / latihan kegel sesuai dengan kemampuan. Gerakan menahan pipis awalnya nahan 6 detik, dan lepaskan. Untuk awal, lakukan 8 kali saja dulu, trus kalau sudah mampu 10 kali. Kalau sudah mampu, tahan 10 detik, 10 kali. Ada macem2 cara untuk kegel. Yang saya lakukan: dengan rebah, tangan kanan di atas perut bawah. Lakukan nafas perut, yaitu dengan tarik nafas panjang melalui hidung dan perut bawah menggembung (tangan kanan di atas perut untuk mengingatkan bahwa yang menggembung adalah perut bawah, bukan dada). Secara bersamaan, kontraksikan untuk menahan pipis. Tahan 6 detik. Setelah itu, hembuskan nafas melalui mulut perlahan dan rilekskan perut bawah, hentikan gerakan menahan pipis.

3. Buatlah jadwal minum, kateter dan latihan. Hentikan minum di jam tidur, supaya bisa istirahat. Misal, start kateter pertama pk. 05.00, kemudian minum 100cc tiap jam s.d. pk. 9, dikateter lagi. Atau, kalau intermittent 6 jam, pukul 11.00 dikateter. Upayakan jadwal minum berakhir pk. 21.00 atau 22.00 agar tidak mengganggu istirahat.

4. Lakukan latihan pipis di antara jam-jam minum.

Saat latihan pipis, tarik nafas dalam-dalam, gunakan nafas perut (ketika menarik nafas, perut bawah –> di bawah pusar, menggembung. Kalau kita biasanya udah pake nafas dada –> dada yg menggembung). Kemudian, hembuskan nafas dan dalam hati, pusatkan pikiran dan “nyebut”: “rilekskan uretra… rilekskan uretra…” , atau coba dengan santai aja sambil baca koran, komik, atau brosur. Silakan latihan dengan berbagai posisi: mau berdiri, duduk di kloset, atau ngompol di bed, juga silakan. Yang penting adalah tenang, enjoy, bisa pipis. Kalau belum bisa, ngga apa, dikateter. Pada waktu itu, saya dikateter setiap 6 jam, tapi kalau udah ngga kuat, bisa minta untuk kateter.

Setiap dikateter, diukur berapa urine yg tersisa (residu urine). Seharusnya, kalau pas ngga kebelet, ya kosong, atau tersisa kurang dari 50cc (kalau ga salah ya, hehehe.. bener atau ngga ya pak dokter?)

Apa ukuran dikatakan “bisa pipis normal”? Ukurannya adalah ketika volume urine yg dikeluarkan bisa mencapai paling tidak 50cc. Nah, kalau pipis, pipislah di gelas ukur (yg biasanya bentuknya plastik, gelas yg seperti untuk menuangkan adonan terang bulan/martabak manis) atau urine yang dikeluarkan melalui cara kateter di bawah 50cc. Entah bener atau tidak secara medis, saya pikir Tuhan bikin “kran” urine udah standar, tiap pipis seringkali kelipatan 50cc. Coba aja ukur sendiri, entah minum diatur atau tidak, kalau pipis normal, yg keluar rata-rata adalah kelipatan 50cc.

Efek sampingnya kateter? Iritasi. Namanya juga benda asing masuk ke dalam tubuh. Apa tanda-tandanya iritasi? Biasanya diawali dengan gatal, trus agak panas, kateter sulit masuk. Kapan mulai iritasi? Tergantung daya tahan setiap orang. Saya mulai iritasi setelah 10 hari😦 Mudah-mudahan, bagi yang sedang mengalami kasus seperti yg pernah saya alami, segera sembuh dan tidak pernah iritasi

Bagaimana jika intermittent catheter ngga berhasil-berhasil, udah lebih dari 10 hari, misalnya? … Ya, ngga ada salahnya pake pengobatan alternatif🙂 Tapi, pilih alternatif yang agak medis lah… Misal, akupunktur, atau totok darah, atau apa lah…. sesuai denghan kasus. Karena kasus saya adalah lemah otot uretra, saya ke pengobatan alternatif “slentik”, di klenteng daerah jalan Cokroaminoto, Surabaya (note: terima kasih banyak, Pak Har. Terima kasih juga buat tante Rini, om Santoso, Bapak, Ibu, mbak Ike, dan suamiku…). Menurut saya, sifatnya seperti akupunktur. Alhamdulillah berhasil. Setelah pengobatan alternatif, apakah latihan-latihan yang saya jalani itu percuma? Tentu tidak. Sebelum ke pengobatan alternatif, urine yang keluar hanya 2-5cc, setelah itu urine bisa keluar 20 cc, dengan latihan nafas. Urine yang keluar masih dengan rasa nyeri dan ngilu. Untuk mengurangi rasa ngilu tersebut, metode pipis yang dipakai adalah metode seperti saat latihan, jadi gunakan nafas perut. Tidak lama kemudian, urine bisa keluar 30cc, 40cc, dan dalam sehari bisa rata-rata 50 -70 cc, sampai 100cc setiap pipis. Pengobatan alternatif tersebut sebagai katalisator latihan, dan Alhamdulillah efektif.

Intermittent catheter dihentikan setelah pipis sudah bisa normal. Tapi, minum tetap harus teratur, untuk mencegah atau menyembuhkan iritasi.

Semoga bermanfaat.

Comments»

1. pengobatan alternatif untuk hamil - November 18, 2008

Thanks atas artikelnya……

2. pengobatan alternatif untuk penyembuhan - November 19, 2008

thanks ya atas infonya…

3. pengobatan alternatif bagi kesehatan - November 20, 2008

nice artikel…
thanks ya atas infonya….
sangat bermanfaat…

4. Indoproperty bsd - November 2, 2009

baru tau, ternyata ada penyakit gak bisa pipis yg dialami oleh orang yg hamil tua…..

thnx sudah sharing…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: